
Membangun Konsistensi Mutu
Kelestarian Lingkungan dan Keamanan Pangan
Mutu Certification I-Portal
Silakan lakukan login untuk dapat mengakses layanan internal Portal kami
Pelayanan total merupakan kata kunci bagi jajaran manajemen MUTU CERTIFICATION
Sebuah komitmen yang berarti memberikan pelayanan secara cepat, tepat, akurat dan efisien
terhadap konsumen, baik jasa inspeksi, uji, kalibrasi, sertifikasi sistem manajemen mutu
manajemen lingkungan, manajemen keamanan pangan
maupun manajemen hutan lestari.
Potensi sampah yang berlimpah di Kota Bekasi, Jabar, telah memunculkan ide bagi orang yang kreatif dengan menjadikannya sebagai pupuk alami (organik).
Sayangnya pupuk yang berasal dari berbagai jenis sampah dan dikerjakan dengan proses semi industri itu, masih dianggap "sampah" oleh petani ataupun pengusaha agrobisnis.
Pupuk dari sampah yang diolah menjadi pupuk kompos sebenarnya sangat dibutuhkan tanaman untuk meningkatkan kesuburan tanah dengan kandungan unsur hara yang dimiliki seperti laiknya pupuk buatan pabrik.
Menurut Dirut PT. Godang Tua Jaya, perusahaan yang mengelola sampah di TPST Bantar Gebang, di Bekasi, Rabu, pupuk kompos made in Bantar Gebang Bekasi yang diberi label "green botane" bisa digunakan di perkebunan kelapa sawit, peningkatan produksi tanaman buah, budidaya tanaman hias, bahkan untuk memperbaiki lahan kritis.
Harga pupuk itu tergolong murah yaitu Rp400/kg, sementara yang dicampur dengan bahan-bahan alami lain dengan kualitas super dijual Rp1.000 atau jauh lebih murah ketimbang pupuk urea bersubsisi sekalipun.
"Potensi sampah yang ada setiap hari bisa diolah menjadi 200 ton pupuk, namun produksi hanya sebesar 35-50 ton per hari," ujar Rekson.
Perusahaan yang mengolah sampah di tempat pembuangan sampah terpadu (TPST) Bantar Gebang tersebut kini belum mampu menutupi biaya produksi dan investasi dari hasil penjualan pupuknya.
Ia menyatakan petani belum memahami keuntungan menggunakan pupuk kompos/alami yang menghasilkan produk sehat tanpa bahan kimia hingga lebih disukai oleh sebagian besar konsumen.
Dalam memasarkan pupuk, pihaknya telah bekerjasama dengan PT. Pertani. Pemerintah membeli pupuk melalui PT. Pertani dan selanjutnya didistribusikan secara gratis kepada petani di berbagai daerah.
Kerjasama tersebut baru sebatas untuk produksi sebanyak 1.000 ton per tahun, sedangkan lainnya dipasarkan sendiri oleh perusahaan ke Sumatera Utara dan daerah lain.
Dalam mengenalkan manfaat pupuk kompos, pihaknya akan melakukan uji coba penanaman padi dengan pupuk kompos di daerah Kuningan dan Subang, Jabar.
Dengan cara praktik langsung dan melihat hasil di lapangan diharapkan petani tergugah untuk menggunakan pupuk kompos. "Kalau sekarang mereka mau pakai karena masih diberi gratis," ujarnya.
Kondisi yang sama juga dialami Dinas Kebersihan yang memproduksi pupuk kompos dari limbah sampah di lima pasar tradisional di Kota Bekasi.
Kepala Bidang Penataan, Dinas Kebersihan Kota Bekasi, Abdul Malik, mengatakan, dari lima pasar itu setiap hari dihasilkan masing-masing lima ton pupuk kompos yang habis dimanfaatkan warga.
"Pupuk masih kita bagikan gratis karena ketika dicoba jual petani belum mau. Ke depan kita akan upayakan agar pupuk kompos tersebut bisa memberikan tambahan pemasukan bagi aparat Dinas Kebersihan," ujarnya.
Pengolahan sampah di pasar tradisional Kota Bekasi dimaksudkan untuk mengurangi volume sampah yang dibawa ke tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) Bantar Gebang serta memberikan nilai ekonomis.
Ia mengatakan, setiap pasar dengan peralatan mesin sederhana yang dimiliki mampu mengolah lima meter kubik sampah per hari, sedangkan volume sampah dihasilkan di pasar tersebut 15 meter kubik per hari.
Kelima pasar itu adalah Pasar Baru, Pasar Kranji, Pasar Sumber Arta, Pasar Jati Asih, dan Pasar Bantar Gebang. Kelima pasar telah mendapat bantuan mesin dari pemerintah kota Bekasi melalui dana APBD.
Ia mengatakan, sampah tersebut dicacah, digiling, difermentasi dan diberi campuran bahan tertentu hingga hasil akhirnya berupa pupuk kompos, namun produknya belum lagi dikomersialkan.
Dari lima pasar tersebut, armada mobil yang ada telah mampu membawa sampah ke TPST Bantar Gebang hingga tidak lagi terjadi penumpukan sampah yang berakibat sanitasi lingkungan jadi jelek.
Ia mengatakan, sampah yang dihasilkan warga setempat mencapai 125 ton atau 2,5 meter kubik per hari per penduduk, sebagian di antaranya diolah menjadi pupuk dan lainnya dikirim ke Bantar Gebang juga diolah menjadi pupuk alami.
Serap Tenaga Kerja
Keberadaan pupuk kompos di TPST Bantar Gebang sebenarnya telah membuka lapangan pekerjaan bagi seratusan ibu-ibu yang tinggal di berbagai desa seputar tempat pembuangan sampah itu.
Menurut Douglas J. Manurung, pengelola pabrik pupuk kompos itu, pekerja sebelumnya mencari nafkah dengan menjadi penyobek kertas bekas gelas, penyortir sampah ataupun pencari sisa sampah yang bermanfaat.
"Setelah menjadi pekerja di pabrik pupuk kompos mereka memiliki penghasilan lebih baik. Adanya pabrik menjadikan mereka sangat terbantu dala memenuhi kebutuhan keluarga," ujarnya.
Seorang warga Ciketing Udik, Bantar Gebang, Ny. Hasanah (25), membenarkan sejak bekerja di pabrik puuk kompos penghasilannya bertambah.
Ia mengaku mendapatkan Rp30 ribu setiap hari untuk kerja beberapa jam dan itu jauh lebih besar ketika ia mendapat upah menyobek kertas pada air minum kemasan.
Hasanah yang ketika itu tengah mengepak pupuk ke dalam plastik yang sudah diberi merek menyatakan, uang penghasilannya digunakan untuk membiayai kebutuhan hidup, termasuk sesekali untuk beli susu anaknya yang kini berusia lima tahun.
Ritme kerja di pabrik kompos itu menurut Hasanah dimulai dari sampah yang ditinggalkan oleh sopir truk, dirapikan pekerja pria untuk dipindahkan ke mesin sortir berjalan.
Selanjutnya dengan cekatan pekerja perempuan yang berdiri di sisi conveyor memilah-milah sampah. Kayu, kerikil dan plastik harus disingkirkan, agar tidak masuk mesin penghancur.
Agar proses pengomposan berjalan cepat, tumpukan sampah yang sudah halus itu disiram bioaktivator dan setelah itu pupuk siap dimasukkan ke dalam pengepakan.
Hasanah mengaku keberadaan pabrik pupuk kompos telah memberikan lapangan pekerjaan baru baginya dan seratusan ibu dan warga lainnya.
Ia kadang juga mengaku sedih melihat tumpukan pupuk kompos makin tinggi akibat pihak perusahaan kesulitan memasarkan pupuk, sedangkan aktivitas produksi tetap jalan.
Kesedihan Hasanah, juga merupakan kesedihan bagi pengelola pabrik yang harus memikirkan dana untuk menyubsidi pembuatan pupuk kompos.
Di tengah kehidupan modern yang makin menyadari pentingnya kesehatan melalui konsumsi makanan organik, ternyata pupuk kompos belum banyak dilirik sebagai bagian dalam proses menghasilkan produk sehat tersebut.
(Berita Daerah - Jawa)